Pertemuan Keempat
Sedale
| B |
ukan main kepayang rasa kepalaku, serasa meledak menjadi kepingan-kepingan debu. Berderak-derak rasa yang tak dapat kuregang lagi. Ketika aku tak lagi dapat menjadi lelaki dalam mimpi.
Aku bukan lelaki lemah yang berkerudung pada keromantisan dan mudah terseret arus perasaan. Bodoh dan naïf kudengar. Dalam sepanjang hidupku mungkin perasaan seperti inilah yang kubenci, paling kubenci! Kebencian terhadap suasana seperti ini bertahun-tahun kujalani. Padahal, ia telah kukubur dalam tiap helaan napas dan langkah-langkah panjangku hingga aku harus memilih lautan mimpi, dalam dekapan hangat belantara kampung kecil, Tideng Pale, persisnya di Kabupaten Bulungan.
Wilayah kecil yang tak pernah diperhitungkan orang, bahkan untuk mencari dalam peta pun mungkin akan kesulitan menemukannya. Melemparku pada beribu mil keterasingan selama bertahun. Hingga pelan-pelan aku mulai membangun kerajaanku sendiri dengan bahan-bahan yang kurajut dari mimpi-mimpi panjang yang terburai. Tideng Pale, seperti negeri mimpi penuh dongeng dan tembang-tembang filsuf yang kata-katanya terlalu sulit kumaknai. Tapi, aku tak pernah naïf karena hidup memang harus begini, sekadar menjalani. Hanya, terkadang orang salah memahami bahwa aku bukan hanya milikku, aku adalah milik Negara dan masyarakatku, sementara untuk memiliki diriku sendiri terkadang begitu sulitnya.
Perjuangan batin melawan kebutuhan jasmaniah pun kutaklukkan dengan bersandar pada kekuatan spiritual. Biar bagaimana pun, pada dasarnya aku adalah pejantan, tapi aku berhasil melaluinya. Dalam bilik yang sederhana kubaktikan hidupku, aku menikmati kehidupan kampung kecil yang jauh dari topeng-topeng kepalsuan. Anak-anak kampung nan lugu, seperti Angan, Yapur, Tehol, Yonas maupun Sulhaq yang penuh dengan antusiasme kebocahannya, selalu ceria mendengarku melantunkan mimpi-mimpi pengetahuan luar yang kutawarkan. Tak pernah berprasangka, tak pernah terpikir di benak mereka bahwa aku adalah si perantau yang kehilangan dirinya sendiri.
Tak terbayangkan sebelumnya aku akan berada di tengah sebuah masyarakat yang sangat alami begitu “apa adanya”, aku terjauhkan dari enaknya tawaran duniawi nyata. Di Tideng Pale, jangankan hendak mengikuti perkembangan dunia, yang lokal pun sulit kudapatkan. Transportasi, informasi, bahkan jalur untuk berkomunikasi seakan-akan menghilang begitu saja dari dunia nyataku. Satu-satunya yang dapat kulakukan, saat peradaban masa laluku menyergap, hanyalah mengisi hari dengan kegiatan memancing.
Tideng Pale kaya akan kepolosan alam, begitu mudahnya mendapatkan segala sesuatu dari alam, karena masyarakat Dayak Berusu yang ada didalamnya pun sangat menjaga keseimbangan alam. Penuh kemurnian, kepolosan, dan sikap terbuka mereka menerima kedatanganku, itu yang membuat aku dapat berlama-lama tinggal di kalangan masyarakat Dayak Berusu. Tak terasa telah satu tahun aku menempati bilik kecilku di antara lamin-lamin yang lain. Tak asing lagi aku hadir di antara mereka, seakan aku adalah bagian dari diri mereka, para wanita yang sekali pun tak pernah mengenal facial ataupun spa seperti layaknya perempuan-perempuan kota, akan tetapi mereka memiliki kepolosan dan ketulusan yang luar biasa. Nuansa alam yang menjanjikan kedamaian dan ketentraman jiwa membuatku enggan untuk meninggalkannya berlama-lama. Aku pun sudah tak asing dengan kegiatan mereka setiap hari mengadakan pengasih, yang unik dan sering membuatku rindu untuk menelusuri apa dan kenapa. Tideng Pale memang seperti negeri mimpi. Sekalipun secara fisik ku adalah lelaki utuh yang kasat mata senang hidup di tengah belantara Kalimantan dengan segala tantangan keunikannya. Tak pernah mereka tahu siapa aku…
***
Ini adalah tahun pertama semennjak kebetulan pertama itu hadir. Barangkali kata ‘tak diperhitungkan’ adalah yang paling pantas mewakilinya. Ketika aku mengikuti session-mu di ibu kota provinsi, Samarinda, sebagai utusan daerah kecil Sesayap. Sungguh tak kunyana kau hadir melintas-lintas di kepalaku, enerjik, cerdas, menarik, juga membangkittkan semangat yang menggelitik terhadap kaummu yang telah kukubur. Sudah bertahun aku tak lagi tertarik buai kecantikan duniawi, yang kuanggap sebagai kecermelangan visual yang menyesakkan, bagaikan seonggok daging yang hanya dapat mengkantar-kantar birahi kejantanan.
Saat muncul pertama di ambang pintu ruang meeting, semua mata memandangmu dengan penuh penjajakan, mengukur siapa kamu sebenarnya, apakah penampilan produk kotamu sesuai dengan isi kepalamu. Relung, namamu, seorang wanita matang penuh kecerdasan yang secara jujur kukatakan menarik luar dalam. Perlu keberanian lebih untuk hanya sekadar tahu keberadaanmu. Setiap detakku bergulir menyeruak-nyeruak jantungku, jujur aku menginginkan pertemuan-pertemuan kecil yang menghadirkanmu. Tapi, waktu tak mau memihakku, belum kunikmati benar setiap kata yang meluncur dari bibirmu; adalah delima yang layak dinikmati menjadi mimpi-mimpi para lelaki, tak lepas sepertiku. Hanya kebetulan…Relung.
Kebetulan kedua, aku mendapat kesempatakn kedua untuk mengenalmu lebih jauh. Tapi, kesempatan itu tak kupergunakan dengan baik. Aku tak jujur dengan nurani, tak ada keberanian. Aku bahagia dengan kesendirian dan kebahagiaan tersembunyi. Kunikmati kesendirian itu, yang telah melambungkan anganku di atas Sungai Kahayan yang menggelepar dan membelah bumi Bulungan, di tanah Tanjung Selor. Kayan menjadi saksi bahwa aku tak pernah menjadi lelaki sejati. Tambangan yang hilir mudik pun rasanya seperti hatiku yang sedang mengalami pasang surut bak ke hulu tidak ke hilir pun tidak.
Terlalu banyak yang mengagumimu, kuakui kau wanita matang yang penuh perhitungan, menarik. Aku tak mampu berebut perhatian, karena kau mesti berbagi perhatian pada banyak orang. Manis sekali caramu menarik perhatian setiap orang disekelilingmu. Terasa aneh memang, ketika berhadapan dalam satu meja makan pun aku tak mampu beroleh perhatianmu, bahkan kau begitu jauh untuk dijangkau. Kupikir kau yang terlalu mengkristal atau aku yang terlalu mempualam. Penampilanmu ketika di luar session begitu menjebakku, keramahan atau keangkuhan, atau aku yang salah mengartikan. Aku pun tak pernah menawarkan keramahan berlebih padamu, Relung, karena kutahu kau biasa hidup di kota yang penuh dengan kamuflase dan pujian, aku takut kau memandangku jadi biasa. Aku dapat menikmati dan mengagumimu hanya dengan caraku sendiri yang orang lain pun mungkin takkan mampu memahaminya. Setiap helaan napasmu adalah suplemen bagi kelanjutan semangatku. Setiap kata yang mengalir dari celah bibirmu adalah buah durian segar yang tercium sampai ke cuping hidungku. Tapi, apakah pantas aku untuk diperhitungkan?
Kesempatan ketiga, rencananya ingin membuat kejutan, ternyata aku mesti menelan pil pahit keterkejutan. Kau memang produk perempuan kota yang perkasa dengan atribut kemandirian. Ketika Mahakam menemaniku bermalam-malam di Kota Tepian, Samarinda, ternyata justru kau tak kutemukan di sepanjang alirannya. Aku memang merindukan ada pertemuan denganmu sekalipun sesaat, seperti ketika aku mengikuti session-mu. Tapi, justru kau sedang memiliki session di kota-kota kecil lainnya. ‘Senin aku pulang, tunggu aku dulu sebelum kembali ke Tideng Pale,’ itu bunyi SMS yang kuterima darimu. Tanpa kau memintaku untuk menunggu, aku siap menunggu. Mahakam jadi terasa begutu ramah sekalipun airnya tak lagi jernih bahkan kecokelatan bercampur sampah di tengah terik menyengat. Dan aku mesti larut dalam kesendirianku. Bukan sebuah kebetulan lagi kalau kita dapat bertemu hingga ketiga kalinya. Kau semakin menyengatku dengan kobar-kobar kecil nyala di detak jantungku.
Tetapi, kebahagiaan itu belum kucecap dan kunikmati sebenar-benarnya, ketika Ambalat memanggilku untuk tugas kenegaraanku yang sebenarnya, tugas utamaku, bukan lagi Tideng Pale. Sempat kulihat binar yang biasa cemerlang, tiba-tiba redup di sudut matamu, atau aku yang kembali salah mengartikan perubahan itu. Aku juga merasakan hal yang sangat bodoh. Setidaknya, dalam perpisahan itu aku mengatakan sesuatu. Ya..bodoh, setidaknya aku bisa mengatakan sesuatu, Apakah kesempatan keempat akan ada?
***
Relung
Tak seorang laki-laki pun merasa aku cintai dengan sebenar-benarnya, karena memang aku dipagari oleh rasa curiga pada tiap laki-laki di dekatku. Itulah ajaran ibuku sewaktu kecil dulu. Aku sedang memikirkan keberadaanku yang tidak jelas, begitu kososng. Bahkan, aku tak pernah merasakan rasa sakit yang lezat dari sebuah penantian, tidak pernah merasakan getaran surgawi yang ditawarkan, sampai akhirnya aku harus merasakan hasrat yang sangat luar biasa dari genggaman kokoh tangan seorang lelaki yang datangnya dari rimba yang tak pernah kutemukan dalam peta dunia. Kalau itu yang dinamakan dengan kebahagiaan, kenapa aku mesti menampiknya? Oh, kalau itu memang benar adanya, kenapa aku tak berusaha merenggutnya?
Kebahagiaan…Terkadang aku belum sempat bertanya apakah aku berbahagia selama separo dari umurku, waktu yang telah terpakai untuk sekadar tahu tentang hidup. Dikelilingi dengan kecerdasan tapi bukan kebijakan, ditawari kemanisan tapi bukan jaminan. Hatiku sering berdarah-darah ketika mengingat masa laluku, tiga belas tahun waktu yang singkat untuk melupakan sebuah kenangan yang membersitkan luka yang cukup bernanah bahkan terinfeksi. Tapi, kusembuhkan lukaku dengan pengobatan alternative: hidup mandiri di kota kecil Samarinda, sendiri hampir separo hidupku. Alu memiliki banyak kesempatan untuk eksis, sekali pun aku bagai rumput kering yang setiap saat akan dapat dengan mudah terbakar dan tertiup angin, mati rasa.
Semalam aku tak bisa tidur dengan tenang, siapakah gerangan yang telah sanggup mengetuk-ngetuk tuts debar jantungku saat ini. Malam telah mengembangkan bintang di sepanjang Mahakam. Aku memikirkanmu. Jambangan hatiku pun terbelah-belah, mengurai cerita kemarin denganmu, Sedale.
Sedale…Laki-laki yang tak pernah bisa kusebut namanya dengan pasti, jadi aku memanggilnya dengan Abang. Laki-laki yang muncul sesaat hingga merampas keangkuhan dan arogansi prasangka genderku. Atau, lebih tepatnya, Sedale mampu menjadi seorang petarung dan penjinak jantungku yang sedang menggelepar.
Sedale, seorang sarjana S2 lulusan Chicago, bekerja di sebuah daerah terpencil di tengah belantara Tideng Pale yang tak menjanjikan impian apa-apa, itu yang selalu menjadi pertanyaanku yang terbiasa berpikir dengan logika. Tapi, kau selalu berkilah ketika itu kutanyakan padamu, “Apakah manusia bisa lepas dari tali-temali nasibnya, apakah kehidupan ini hanya sebuah scenario yang harus dijalani, dan apa pun yang menjadi pilihan manusia akan membuahkan hasil yang sama?” Banyak sebenarnya yang ingin kutanyakan padamu, tapi rasanya waktu berlari mengejar impiannya sendiri. Kata-kata bijak selalu meluncur dari suara beratmu, dan yang paling kuingat ketika kau selalu menyindirku, “Belajarlah untuk tidak hanya sekadar mendapatkan, tetapi belajarlah untuk menjadi.”
Kuhabiskan malam-malamku sambil mengingat-ingatmu. Kukalahkan harga diriku hanya sekadar ingin mendengar suara khasmu. Penyakit! Aku sangat benci tersiksa begini, sementara aku pun tak tahu sebenarnya kemudiku hendak kemana. Hmm, aku mulai lagi mengasihani diri sendiri. Aliran Mahakam yang selalu menawarkan berbagai warna kehidupan pun tak lagi sanggup menghiburku, warung remang sepanjang tepian Mahakam pun tak lagi membuat penasaran perasaanku untuk sekadar mengintipnya. Nuraniku udah tercerai-berai berkutat dalam sebuah pertanyaan demi pertanyaan, mengapa aku memikirkan dirimu sementara kau belum tentu memikirkanku. Naif…
***
Keajaiban pertama, tak banyak yang dapat kuingat dari pertemuan itu selain rasa ‘aneh’ yang menggelitikku dengan ribuan pertanyaan, ‘siapa kamu’. Bungkus keangkuhan dan percaya diri lebih kuat disbanding untuk sekadar memperhitungkanmu. ‘Maaf, boleh saya tahu nomor HP-nya?” begitu formal cara bicaramu, seakan aku di kutub utara dan kamu di selatan, tak ada ketinting hati yang dapat menghubungkannya. Kita pun tak terlibat pembicaraan selain keformalan, sepertinya kita adalah dua kubu musuh yang saling mengintai dan ingin saling mengalahkan, mencari celah. Ide-ideku tak biasa dilecehkan apalagi ditolak… Dan ketika itu kau lakukan, bayang arogansiku muncul berbaur dengan rasa membelit benak. Memperhitungkan keberadaanmu adalah sangat perlu. Dan itu tak berlalu begitu saja, aku masih terobsesi untuk sekadar mengetahui eksistensimu. Karena kamu memang berbeda dibanding yang lain…istimewa.
Keajaiban kedua, pertemuan ini menohokku untuk terduduk di sofa terdepan sambil menggelung hatiku, kau ada hadir di antara mereka? Senang bercampur kaget ketika kutahu itu. Tapi setidaknya kuharap kalau kau tersenyum, senyummu akan tulus dan hangat. Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama? Aku tak lagi yakin, ada serpihan nikmat ketika banyak orang yang tahu ada orang ‘istimewa’ yang akan ikut. Tapi,kekecewaan mulai tumbuh dalam kesendirianku, sepertinya tak ada setitik kenangan pada dirimu…tentangku.
Bentangan Kahayan yang berslogan “Merundung Pebatun De Bebuanta” membenamkan sedikit rasa yang menusuk-nusuk benak harga diriku. Antutan, desa kecil di ujung Bulungan, memuaskan nafsu kekotaanku yang kampungan, semalaman aku di tengah belantara hanya ingin menyaksikan sebuah pertunjukkan alam, durian jatuh dari pohonnya. Tanah lembab dan udara hutan yang membuat sensasi darah petualanganku, menjauhkan aku dari angan terdekatku…bertemu denganmu, ketika sore tadi kau menjanjikan akan menemuiku. Kutunggu…dan kutunggu. Ternyata HP-ku tak juga bergetar hingga kita sudah benar-benar kehilangan sinyal. Tak berani berharap terlalu banyak, bahkan sudah kutimbun di bagian benak yang paling dalam. Seperti menelan buah mata kucing yang manis, tapi kutelan begitu saja tanpa harus berpikir untuk menikmati kelezatannya.
Hingga kita dihadapkan pada satu meja makan malam pun, sudah bergeming. Tak ada seloroh ngomong piau di antara kita, karena aku asyik mengasihani diriku sendiri. Bagaikan orang asing dengan kebekuan masing-masing. Aku bagai manusia bahalul yang tak menemukan kata kunci menjawab persoalan. Sampai akhirnya kau tak lagi dapat melanjutkan session berikutnya… Apel merah selamat tinggal Kahayan. Sampai getaran sinyal terakhir kuterima tapi tak perlu kuangkat lagi, karena kau takut terkecewakan oleh tuts-tuts dentingan harapan bercampur kekecewaan. Dari balik kaca burung besi Bandara Tanjung Harapan, kupupus sudah segala mengenai dirimu sampai akhirnya aku harus menerima tantangan pertarungan harga diriku, ketika kau kembali menghubungiku, sekalipun itu bukan sebuah harapan, paling tidak aku sudah kembali menjadi diriku lagi, dengan arogansi produk kekotaanku.
Sebuah kebetulan ataukah keajaiban, ketiga kalinya aku mesti nenghadapimu yang memelintir perasaan kewanitaanku. Keterkejutanku belum pulih benar saat kau katakan kau ada di kotaku. Tak ada kata terlambat untuk hanya sekadar menebar jala sambutan padamu. Pertemuan biasa yang menjadi sangat luar biasa. Ataukah ini permainan lelakimu untuk menjebakku pada pesonamu. ‘Ada yang bisa saya bantu?’ sapaan menggodamu ketika aku asyik dengan Upacara-nya Korrie Layun Rampan, tapi suara beratmu selalu tak asing untuk telingaku. Aku tertawa menyambut kalimatmu yang jauh dari mencoba dan menggoda. Separo hariku kuhabiskan bersamamu, terasa damai dan memikat. Detik demi detik kurasai sebagai sensasi yang menantang di luar kesadaran. Aku hanyut..hanyut dalam lengan-lengan kokohmu yang menjanjikan lautan kedewasaan hakiki. Percik api seharusnya dipadamkan sebelum berkobar menjadi besar, tapi itu tak kulakukan, biar..biar menyala dan menjilat apa saja. Kubiarkan hatiku melambung, apakah aku bahagia…
Sedikit tabir tentangmu mulai terkuak…Kau memang bukan lelaki biasa, istimewa. Lelaki yang memang harus mengemban tugas negara dengan mengalahkan segala anggur kenikmatan yang seharusnya direguk. Karena kehidupan hanya sekali. Aku semakin yakin bahwa kotak Pandora masih menawarkan harapan dahaga bagi manusia. Aku terus melaju dengan angan manusiawi kewanitaanku. Begitu nikmat rasanya mendengar alunan-alunan kecil dari celah bibir lelakimu. Terasa hidup lebih hidup. Takkan kulupa saat kau menyibak rambutku hanya untuk sekadar menyatakan rahasia yang membutuhkan kata. Sedale, lelaki yang harus kembali ketika keajaiban telah mempertemukanku dengan angan-angan keperempuanan yang telah terpatahkan arogansinya.
***
Sedale dan Relung
Semua waktu adalah sayap-sayap yang mengepak melintasi angkasa dari diri ke diri. Ketika Sepinggan memisahkan raga mereka, Sedale dan Relung, keduanya menggelepar oleh tikaman rindu yang terbatas. Menelusuri semua lorong dan jalan, mencari sukma yang berlari di tengah belantara ketidakpastian, melayati lautan waktu dan memasuki gua-gua tersembunyi yang meraibkan jantung keduanya, saling menyerukan dan menyanyikan kejelitaan cinta dan ruhnya. Keduanya hanyut oleh alir deras kasihmu, menggelegak oleh cahaya panas cintamu.
Sedale, setetes jiwa yang tengah berangkat. Mencari nutiara di samudera asing tanpa bekal kemahiran untuk menyelam. Sengal napasnya terasa segar dan hangat. Ketika harus mengulurkan lengan-lengan kokohnya, membelai bulir-bulir kasih yang baru bisa disemai esok ataupun lusa, tapi masih harus menunggu keramahan sang waktu. Ketika sudah tak ada kata tidak untuk menolak ketika punggung jemari Relung masih terkulai dipangkuannya, dielus dan dipijitnya dengan mesra, sambil menunggu panggilan aba terakhir. Cinta sudah tak dapat diperdaya untuk menjadi telabang ketakberdayaan kelelakiannya. Seandainya ada penawaran yang adil ataupun pinta, tapi kata sudah menjadi tak bermakna. Tak ada janji keduanya, hanya tatapan kehilangan harus melepas dahaga yang belum terminumi. Karena Ambalat memanggil tanggu jawabnya, untuk memanjangi waktu dan sisa usia yang masih misteri. Karena dunia adalah perbendaharaan kemungkinan.
Relung, saat mimpi lebih menindihnya ke tepi, adakah jurang yang menanti ataukah senandung merdu mengiringi. Rahasia hidupnya menyimpan sejuta magma, sejuta harapan. Berdiri di antara mimpi dan kenyataan yang keduanya bukan kemerdekaan dan pilihan. Sedale, lelaki yang mampu menaklukkan segala kenagkuhan, tapi apakah masih perlu dipertahankan. Karena mimpi semakin ke tepi, tak ada pilihan, karena ia hanya akan menjadi pilihan kedua setalah Ambalat. Hanya serpihan jiwa, Sedale telah memberikan setitik terang untuk kegelapannya, tapi memang Tuhan tidak menganugerahi kecerdasan untuk lokasi persembunyian dari kekurangan dan alibi, karena tidak semua lelaki adalah prahara. Sekadar pinta pun tak mampu keluar dari bibirnya, sampai pada puncaknya si burung besi membawa Sedale menembus ruang dan waktu, tanpa meninggalkan janji, menuju Ambalat sebagai perwira. Hanya harapan yang masih tersisa…masih adakah keajaiban pertemuan keempat?
Ambalat-Samarinda, di antara deru dan desing kemarahan, suhu harga diri dan eksistensi meninggi, menguburkan kemerdekaan beberapa ratus hati, tak ada yang bisa ditawarkan dari sebuah perang kecuali kerugian. Lantas, kapan berakhir? Diantara puluhan kapal perang yang berlayar, ada satu hati yang masih memiliki harapan. Akankah hari perpisahan menjadi hari pertemuan, dan akankah ujung akhir harinya akan merupakan fajar baru, hingga ada keajaiban bagi pertemuan keempat…?
***
(ditulis oleh Atik Sulistyowati & disadur dari “Bingkisan Petir” karya Korrie Layun Rampan)