Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Pertemuan keempat

Pertemuan Keempat

Sedale

B

ukan main kepayang rasa kepalaku, serasa meledak menjadi kepingan-kepingan debu. Berderak-derak rasa yang tak dapat kuregang lagi. Ketika aku tak lagi dapat menjadi lelaki dalam mimpi.

Aku bukan lelaki lemah yang berkerudung pada keromantisan dan mudah terseret arus perasaan. Bodoh dan naïf kudengar. Dalam sepanjang hidupku mungkin perasaan seperti inilah yang kubenci, paling kubenci! Kebencian terhadap suasana seperti ini bertahun-tahun kujalani. Padahal,  ia telah kukubur dalam tiap helaan napas dan langkah-langkah panjangku hingga aku harus memilih lautan mimpi, dalam dekapan hangat belantara kampung kecil, Tideng Pale, persisnya di Kabupaten Bulungan.

Wilayah kecil yang tak pernah diperhitungkan orang, bahkan untuk mencari dalam peta pun mungkin akan kesulitan menemukannya. Melemparku pada beribu mil keterasingan selama bertahun. Hingga pelan-pelan aku mulai membangun kerajaanku sendiri dengan bahan-bahan yang kurajut dari mimpi-mimpi panjang yang terburai. Tideng Pale, seperti negeri mimpi penuh dongeng dan tembang-tembang filsuf yang kata-katanya terlalu sulit kumaknai. Tapi, aku tak pernah naïf karena hidup memang harus begini,  sekadar menjalani. Hanya, terkadang orang salah memahami bahwa aku bukan hanya milikku, aku adalah milik Negara dan masyarakatku, sementara untuk memiliki diriku sendiri terkadang begitu sulitnya.

Perjuangan batin melawan kebutuhan jasmaniah pun kutaklukkan dengan bersandar pada kekuatan spiritual. Biar bagaimana pun, pada dasarnya aku adalah pejantan, tapi aku berhasil melaluinya. Dalam bilik yang sederhana kubaktikan hidupku, aku menikmati kehidupan kampung kecil yang jauh dari topeng-topeng kepalsuan. Anak-anak kampung nan lugu, seperti Angan, Yapur, Tehol, Yonas maupun Sulhaq yang penuh dengan antusiasme kebocahannya, selalu ceria mendengarku melantunkan mimpi-mimpi pengetahuan luar yang kutawarkan. Tak pernah berprasangka, tak pernah terpikir di benak mereka bahwa aku adalah si perantau yang kehilangan dirinya sendiri.

Tak terbayangkan sebelumnya aku akan berada di tengah sebuah masyarakat yang sangat alami begitu “apa adanya”, aku terjauhkan dari enaknya tawaran duniawi nyata. Di Tideng Pale, jangankan hendak mengikuti perkembangan dunia, yang lokal pun sulit kudapatkan. Transportasi, informasi, bahkan jalur untuk berkomunikasi seakan-akan menghilang begitu saja dari dunia nyataku. Satu-satunya yang dapat kulakukan, saat peradaban masa laluku menyergap, hanyalah mengisi hari dengan  kegiatan memancing.

Tideng Pale kaya akan kepolosan alam, begitu mudahnya mendapatkan segala sesuatu dari alam, karena masyarakat Dayak Berusu yang ada didalamnya pun sangat menjaga keseimbangan alam. Penuh kemurnian, kepolosan, dan sikap terbuka mereka menerima kedatanganku, itu yang membuat aku dapat berlama-lama tinggal di kalangan masyarakat Dayak Berusu. Tak terasa telah satu tahun aku menempati bilik kecilku di antara lamin-lamin yang lain.  Tak asing lagi aku hadir di antara mereka, seakan aku adalah bagian dari diri mereka, para wanita yang sekali pun tak pernah mengenal facial ataupun spa seperti layaknya perempuan-perempuan kota, akan tetapi mereka memiliki kepolosan dan ketulusan yang luar biasa. Nuansa alam yang menjanjikan kedamaian  dan ketentraman jiwa membuatku enggan untuk meninggalkannya berlama-lama. Aku pun sudah tak asing dengan kegiatan mereka setiap hari mengadakan pengasih, yang unik dan sering membuatku rindu untuk menelusuri apa dan kenapa. Tideng Pale memang seperti negeri mimpi. Sekalipun secara fisik ku adalah lelaki utuh yang kasat mata senang hidup di tengah belantara Kalimantan dengan segala tantangan keunikannya. Tak pernah mereka tahu siapa aku…

***

Ini adalah tahun pertama semennjak kebetulan pertama itu hadir. Barangkali kata ‘tak diperhitungkan’ adalah yang paling pantas mewakilinya. Ketika aku mengikuti session-mu di ibu kota provinsi, Samarinda, sebagai utusan daerah kecil Sesayap. Sungguh tak kunyana kau hadir melintas-lintas di kepalaku, enerjik, cerdas, menarik, juga membangkittkan semangat yang menggelitik terhadap kaummu yang telah kukubur. Sudah bertahun aku tak lagi tertarik buai kecantikan duniawi, yang kuanggap sebagai kecermelangan visual yang menyesakkan, bagaikan seonggok daging yang hanya dapat mengkantar-kantar birahi kejantanan.

Saat muncul pertama di ambang pintu ruang meeting, semua mata memandangmu dengan penuh penjajakan, mengukur siapa kamu sebenarnya, apakah penampilan produk kotamu sesuai dengan isi kepalamu. Relung, namamu, seorang wanita matang penuh kecerdasan yang secara jujur kukatakan menarik luar dalam. Perlu keberanian lebih untuk hanya sekadar tahu keberadaanmu. Setiap detakku bergulir menyeruak-nyeruak jantungku, jujur aku menginginkan pertemuan-pertemuan kecil yang menghadirkanmu. Tapi, waktu tak mau memihakku, belum kunikmati benar setiap kata yang meluncur dari bibirmu; adalah delima yang layak dinikmati menjadi mimpi-mimpi para lelaki, tak lepas sepertiku. Hanya kebetulan…Relung.

Kebetulan kedua, aku mendapat kesempatakn kedua untuk mengenalmu lebih jauh. Tapi, kesempatan itu tak kupergunakan dengan baik. Aku tak jujur dengan nurani, tak ada keberanian. Aku bahagia dengan kesendirian dan kebahagiaan tersembunyi. Kunikmati kesendirian itu, yang telah melambungkan anganku di atas Sungai Kahayan yang menggelepar dan membelah bumi Bulungan, di tanah Tanjung Selor. Kayan menjadi saksi bahwa aku tak pernah menjadi lelaki sejati. Tambangan yang hilir mudik pun rasanya seperti hatiku yang sedang mengalami pasang surut bak ke hulu tidak ke hilir pun tidak.

Terlalu banyak yang mengagumimu, kuakui kau wanita matang yang penuh perhitungan, menarik. Aku tak mampu berebut perhatian, karena kau mesti berbagi perhatian pada banyak orang. Manis sekali caramu menarik perhatian setiap orang disekelilingmu. Terasa aneh memang, ketika berhadapan dalam satu meja makan pun aku tak mampu beroleh perhatianmu, bahkan kau begitu jauh untuk dijangkau. Kupikir kau yang terlalu mengkristal atau aku yang terlalu mempualam. Penampilanmu ketika di luar session begitu menjebakku, keramahan atau keangkuhan, atau aku yang salah mengartikan. Aku pun tak pernah menawarkan keramahan berlebih padamu, Relung, karena kutahu kau biasa hidup di kota yang penuh dengan kamuflase dan pujian, aku takut kau memandangku jadi biasa. Aku dapat menikmati dan mengagumimu hanya dengan caraku sendiri yang orang lain pun mungkin takkan mampu memahaminya. Setiap helaan napasmu adalah suplemen bagi kelanjutan semangatku. Setiap kata yang mengalir dari celah bibirmu adalah buah durian segar yang tercium sampai ke cuping hidungku. Tapi, apakah pantas aku untuk diperhitungkan?

Kesempatan ketiga,  rencananya ingin membuat kejutan, ternyata aku mesti menelan pil pahit keterkejutan. Kau memang produk perempuan kota yang perkasa dengan atribut kemandirian. Ketika Mahakam menemaniku bermalam-malam di Kota Tepian, Samarinda, ternyata justru kau tak kutemukan di sepanjang alirannya. Aku memang merindukan ada pertemuan denganmu sekalipun sesaat, seperti ketika aku mengikuti session-mu. Tapi, justru kau sedang memiliki session di kota-kota kecil lainnya. ‘Senin aku pulang, tunggu aku dulu sebelum kembali ke Tideng Pale,’ itu bunyi SMS yang kuterima darimu. Tanpa kau memintaku untuk menunggu, aku siap menunggu. Mahakam jadi terasa begutu ramah sekalipun airnya tak lagi jernih bahkan kecokelatan bercampur sampah di tengah terik menyengat. Dan aku mesti larut dalam kesendirianku. Bukan sebuah kebetulan lagi kalau kita dapat bertemu hingga ketiga kalinya. Kau semakin menyengatku dengan kobar-kobar kecil nyala di detak jantungku.

Tetapi, kebahagiaan itu belum kucecap dan kunikmati sebenar-benarnya, ketika Ambalat memanggilku untuk tugas kenegaraanku yang sebenarnya, tugas utamaku, bukan lagi Tideng Pale. Sempat kulihat binar yang biasa cemerlang, tiba-tiba redup di sudut matamu, atau aku yang kembali salah mengartikan perubahan itu. Aku juga merasakan hal yang sangat bodoh. Setidaknya, dalam perpisahan itu aku mengatakan sesuatu. Ya..bodoh, setidaknya aku bisa mengatakan sesuatu, Apakah kesempatan keempat akan ada?

***

Relung

Tak seorang laki-laki pun merasa aku cintai dengan sebenar-benarnya, karena memang aku dipagari oleh rasa curiga pada tiap laki-laki di dekatku. Itulah ajaran ibuku sewaktu kecil dulu. Aku sedang memikirkan keberadaanku yang tidak jelas, begitu kososng. Bahkan, aku tak pernah merasakan rasa sakit yang lezat dari sebuah penantian, tidak pernah merasakan getaran surgawi yang ditawarkan, sampai akhirnya aku harus merasakan hasrat yang sangat luar biasa dari genggaman kokoh tangan seorang lelaki yang datangnya dari rimba yang tak pernah kutemukan dalam peta dunia. Kalau itu yang dinamakan dengan kebahagiaan, kenapa aku mesti menampiknya? Oh, kalau itu memang benar adanya, kenapa aku tak berusaha merenggutnya?

Kebahagiaan…Terkadang aku belum sempat bertanya apakah aku berbahagia selama separo dari umurku, waktu yang telah terpakai untuk sekadar tahu tentang hidup. Dikelilingi dengan kecerdasan tapi bukan kebijakan, ditawari kemanisan tapi bukan jaminan. Hatiku sering berdarah-darah ketika mengingat masa laluku, tiga belas tahun waktu yang singkat untuk melupakan sebuah kenangan yang membersitkan luka yang cukup bernanah bahkan terinfeksi. Tapi, kusembuhkan lukaku dengan pengobatan alternative: hidup mandiri di kota kecil Samarinda, sendiri hampir separo hidupku. Alu memiliki banyak kesempatan untuk eksis, sekali pun aku bagai rumput kering yang setiap saat akan dapat dengan mudah terbakar dan tertiup angin, mati rasa.

Semalam aku tak bisa tidur dengan tenang, siapakah gerangan yang telah sanggup mengetuk-ngetuk tuts debar jantungku saat ini. Malam telah mengembangkan bintang di sepanjang Mahakam. Aku memikirkanmu. Jambangan hatiku pun terbelah-belah, mengurai cerita kemarin denganmu, Sedale.

Sedale…Laki-laki yang tak pernah bisa kusebut namanya dengan pasti, jadi aku memanggilnya dengan Abang. Laki-laki yang muncul sesaat hingga merampas keangkuhan dan arogansi prasangka genderku. Atau, lebih tepatnya, Sedale mampu menjadi seorang petarung dan penjinak jantungku yang sedang menggelepar.

Sedale, seorang sarjana S2 lulusan Chicago, bekerja di sebuah daerah terpencil di tengah belantara Tideng Pale yang tak menjanjikan impian apa-apa, itu yang selalu menjadi pertanyaanku yang terbiasa berpikir dengan logika. Tapi, kau selalu berkilah ketika itu kutanyakan padamu, “Apakah manusia bisa lepas dari tali-temali nasibnya, apakah kehidupan ini hanya sebuah scenario yang harus dijalani, dan apa pun yang menjadi pilihan manusia akan membuahkan hasil yang sama?” Banyak sebenarnya yang ingin kutanyakan padamu, tapi rasanya waktu berlari mengejar impiannya sendiri. Kata-kata bijak selalu meluncur dari suara beratmu, dan yang paling kuingat ketika kau selalu menyindirku, “Belajarlah untuk tidak hanya sekadar mendapatkan, tetapi belajarlah untuk menjadi.”

Kuhabiskan malam-malamku sambil mengingat-ingatmu. Kukalahkan harga diriku hanya sekadar ingin mendengar suara khasmu. Penyakit! Aku sangat benci tersiksa begini, sementara aku pun tak tahu sebenarnya kemudiku hendak kemana. Hmm, aku mulai lagi mengasihani diri sendiri. Aliran Mahakam yang selalu menawarkan berbagai warna kehidupan pun tak lagi sanggup menghiburku, warung remang sepanjang tepian Mahakam pun tak lagi membuat penasaran perasaanku untuk sekadar mengintipnya. Nuraniku udah tercerai-berai berkutat dalam sebuah pertanyaan demi pertanyaan, mengapa aku memikirkan dirimu sementara kau belum tentu memikirkanku. Naif…

***

Keajaiban pertama, tak banyak yang dapat kuingat dari pertemuan itu selain rasa ‘aneh’ yang menggelitikku dengan ribuan pertanyaan, ‘siapa kamu’. Bungkus keangkuhan dan percaya diri lebih kuat disbanding untuk sekadar memperhitungkanmu. ‘Maaf, boleh saya tahu nomor HP-nya?” begitu formal cara bicaramu, seakan aku di kutub utara dan kamu di selatan, tak ada ketinting hati yang dapat menghubungkannya. Kita pun tak terlibat pembicaraan selain keformalan, sepertinya kita adalah dua kubu musuh yang saling mengintai dan ingin saling mengalahkan, mencari celah. Ide-ideku tak biasa dilecehkan apalagi ditolak… Dan ketika itu kau lakukan, bayang arogansiku muncul berbaur dengan rasa membelit benak. Memperhitungkan keberadaanmu adalah sangat perlu. Dan itu tak berlalu begitu saja, aku masih terobsesi untuk sekadar mengetahui eksistensimu. Karena kamu memang berbeda dibanding yang lain…istimewa.

Keajaiban kedua, pertemuan ini menohokku untuk terduduk di sofa terdepan sambil menggelung hatiku, kau ada hadir di antara mereka? Senang bercampur kaget ketika kutahu itu. Tapi setidaknya kuharap kalau kau tersenyum, senyummu akan tulus dan hangat. Apakah kau masih mengingat pertemuan pertama? Aku tak lagi yakin, ada serpihan nikmat ketika banyak orang yang tahu ada orang ‘istimewa’ yang akan ikut. Tapi,kekecewaan mulai tumbuh dalam kesendirianku, sepertinya tak ada setitik kenangan pada dirimu…tentangku.

Bentangan Kahayan yang berslogan “Merundung Pebatun De Bebuanta” membenamkan sedikit rasa yang menusuk-nusuk benak harga diriku. Antutan, desa kecil di ujung Bulungan, memuaskan nafsu kekotaanku yang kampungan, semalaman aku di tengah belantara hanya ingin menyaksikan sebuah pertunjukkan alam, durian jatuh dari pohonnya. Tanah lembab dan udara hutan yang membuat sensasi darah petualanganku, menjauhkan aku dari angan terdekatku…bertemu denganmu, ketika sore tadi kau menjanjikan akan menemuiku. Kutunggu…dan kutunggu. Ternyata HP-ku tak juga bergetar hingga kita sudah benar-benar kehilangan sinyal. Tak berani berharap terlalu banyak, bahkan sudah kutimbun di bagian benak yang paling dalam. Seperti menelan buah mata kucing yang manis, tapi kutelan begitu saja tanpa harus berpikir untuk menikmati kelezatannya.

Hingga kita dihadapkan pada satu meja makan malam pun, sudah bergeming. Tak ada seloroh ngomong piau di antara kita, karena aku asyik mengasihani diriku sendiri. Bagaikan orang asing dengan kebekuan masing-masing. Aku bagai manusia bahalul yang tak menemukan kata kunci menjawab persoalan. Sampai akhirnya kau tak lagi dapat melanjutkan session berikutnya… Apel merah selamat tinggal Kahayan. Sampai getaran sinyal terakhir kuterima tapi tak perlu kuangkat lagi, karena kau takut terkecewakan oleh tuts-tuts dentingan harapan bercampur kekecewaan. Dari balik kaca burung besi Bandara Tanjung Harapan, kupupus sudah segala mengenai dirimu sampai akhirnya aku harus menerima tantangan pertarungan harga diriku, ketika kau kembali menghubungiku, sekalipun itu bukan sebuah harapan, paling tidak aku sudah kembali menjadi diriku lagi, dengan  arogansi produk kekotaanku.

Sebuah kebetulan ataukah keajaiban, ketiga kalinya aku mesti nenghadapimu yang memelintir perasaan kewanitaanku. Keterkejutanku belum pulih benar saat kau katakan kau ada di kotaku. Tak ada kata terlambat untuk hanya sekadar menebar jala sambutan padamu. Pertemuan biasa yang menjadi sangat luar biasa. Ataukah ini permainan lelakimu untuk menjebakku pada pesonamu. ‘Ada yang bisa saya bantu?’ sapaan menggodamu ketika aku asyik dengan Upacara-nya Korrie Layun Rampan, tapi suara beratmu selalu tak asing untuk telingaku.  Aku tertawa menyambut kalimatmu yang jauh dari mencoba dan menggoda. Separo hariku kuhabiskan bersamamu, terasa damai dan memikat. Detik demi detik kurasai sebagai sensasi yang menantang di luar kesadaran. Aku hanyut..hanyut dalam lengan-lengan kokohmu yang menjanjikan lautan kedewasaan hakiki. Percik api seharusnya dipadamkan sebelum berkobar menjadi besar, tapi itu tak kulakukan, biar..biar menyala dan menjilat apa saja. Kubiarkan hatiku melambung, apakah aku bahagia…

Sedikit tabir tentangmu mulai terkuak…Kau memang bukan lelaki biasa, istimewa. Lelaki yang memang harus mengemban tugas negara dengan mengalahkan segala anggur kenikmatan yang seharusnya direguk. Karena kehidupan hanya sekali. Aku semakin yakin bahwa kotak Pandora masih menawarkan harapan dahaga bagi manusia. Aku terus melaju dengan angan manusiawi kewanitaanku. Begitu nikmat rasanya mendengar alunan-alunan kecil dari celah bibir lelakimu. Terasa hidup lebih hidup. Takkan kulupa saat kau menyibak rambutku hanya untuk sekadar menyatakan rahasia yang membutuhkan kata. Sedale, lelaki yang harus kembali ketika keajaiban telah mempertemukanku dengan angan-angan keperempuanan yang telah terpatahkan arogansinya.

***

Sedale dan Relung

Semua waktu adalah sayap-sayap yang mengepak melintasi angkasa dari diri ke diri. Ketika Sepinggan memisahkan raga mereka, Sedale dan Relung, keduanya menggelepar oleh tikaman rindu yang terbatas. Menelusuri semua lorong dan jalan, mencari sukma yang berlari di tengah belantara ketidakpastian, melayati lautan waktu dan memasuki gua-gua tersembunyi yang meraibkan jantung keduanya, saling menyerukan dan menyanyikan kejelitaan cinta dan ruhnya. Keduanya hanyut oleh alir deras kasihmu, menggelegak oleh cahaya panas cintamu.

Sedale, setetes jiwa yang tengah berangkat. Mencari nutiara di samudera asing tanpa bekal kemahiran untuk menyelam. Sengal napasnya terasa segar dan hangat. Ketika harus mengulurkan lengan-lengan kokohnya, membelai bulir-bulir kasih yang baru bisa disemai esok ataupun lusa, tapi masih harus menunggu keramahan sang waktu. Ketika sudah tak ada kata tidak untuk menolak ketika punggung jemari Relung masih terkulai dipangkuannya, dielus dan dipijitnya dengan mesra, sambil menunggu panggilan aba terakhir. Cinta sudah tak dapat diperdaya untuk menjadi telabang ketakberdayaan kelelakiannya. Seandainya ada penawaran yang adil ataupun pinta, tapi kata sudah menjadi tak bermakna. Tak ada janji keduanya, hanya tatapan kehilangan harus melepas dahaga yang belum terminumi. Karena Ambalat memanggil tanggu jawabnya, untuk memanjangi waktu dan sisa usia yang masih misteri. Karena dunia adalah perbendaharaan kemungkinan.

Relung, saat mimpi lebih menindihnya ke tepi, adakah jurang yang menanti ataukah senandung merdu mengiringi. Rahasia hidupnya menyimpan sejuta magma, sejuta harapan. Berdiri di antara mimpi dan kenyataan yang keduanya bukan kemerdekaan dan pilihan. Sedale, lelaki yang mampu menaklukkan segala kenagkuhan, tapi apakah masih perlu dipertahankan. Karena mimpi semakin ke tepi, tak ada pilihan, karena ia hanya akan menjadi pilihan kedua setalah Ambalat. Hanya serpihan jiwa, Sedale telah memberikan setitik terang untuk kegelapannya, tapi memang Tuhan tidak menganugerahi kecerdasan untuk lokasi persembunyian dari kekurangan dan alibi, karena tidak semua lelaki adalah prahara. Sekadar pinta pun tak mampu keluar dari bibirnya, sampai pada puncaknya si burung besi membawa Sedale menembus ruang dan waktu, tanpa meninggalkan janji, menuju Ambalat sebagai perwira. Hanya harapan yang masih tersisa…masih adakah keajaiban pertemuan keempat?

Ambalat-Samarinda, di antara deru dan desing kemarahan, suhu harga diri dan eksistensi meninggi, menguburkan kemerdekaan beberapa ratus hati, tak ada yang bisa ditawarkan dari sebuah perang kecuali kerugian. Lantas, kapan berakhir? Diantara puluhan kapal perang yang berlayar, ada satu hati yang masih memiliki harapan. Akankah hari perpisahan menjadi hari pertemuan, dan akankah ujung akhir harinya akan merupakan fajar baru, hingga ada keajaiban bagi pertemuan keempat…?

***

(ditulis oleh Atik Sulistyowati &                                                                                                     disadur dari “Bingkisan Petir” karya Korrie Layun Rampan)

Kamu udah lupa toh?

Pulang dari kampus waktu dah menunjukkan jam 5 sore, sebenernya hari itu aq cuman ada 1 kuliah, jam 1 sampe jam 3, keluar kelas langsung menuju ke lobi HI, cari si jeng thatha. Tnyata dya lagi ada di world bank corner, kami pun memutuskan wat lunch di kantin, soalnya thatha maw ada kuliah lagi jam 3.30pm. Kelar makan, kami berpisah, Thatha ke kelas, aq ke lobi lagi, niatnya maw pulang lewat jalan deket rektorat. Eh, di lobi ktemu ma Poepoet, jadinya batal pulang soalnya jadi ada sesi curhat dadakan (siapa lagi kalo bukan aq yang curhat, hehehehe) soal masalah yg lagi aq hadapin. Sejauh ini c, aq masi pake asas praduga tak bersalah, yah, qta liat aja ntar gimana perkembangannya. Dari taman FISIPOL, kami pindah ke dekat parkiran, tak terasa waktu menunjukkan jam 4.30 pm, si Thatha selesei kuliah. Kami pulang bareng, lagi enak leyeh2 di kamar, tiba2 ada telpon dari nomer ndak dikenal (duh Mas, knapa juga pake di hidden nomernya???) sedikit was-was, akhirnya aq angkat juga. Gini percakapannya:

Pris: Halo, maw bicara dengan siapa yah?

silent…..

Pris: Halo, maw bicara dengan siapa yah? (dengan nada mulai naik 1 oktaf)

Mas: Yah, udah lupa toh sama suara aq…

Pris:Oh…kamu ..!!! (suara mendadak berubah jadi ceria gitu deh =P)

bla..bla..bla… pembicaraan terus mengalir… ^_^

Jujur, aq kaget banget waktu dya telpon, soalnya minggu lalu dya bilang maw telpon hari minggu (huks..huks.. aq harus sabar nunggu telponnya T_T t’gantung kapan dya ada kesempatan wat telpon…) Ternyata dya telpon malem itu soalnya hari minggu ndak bisa telpon, ada long march katanya ^_^  bahkan sampe ndak empet ke gereja…Jia you yah Mas… you can do it \\(^o^)//  Denger suaranya di telpon rasanya jadi tenang gitu, meski pun ndak bisa ketemu, seenggaknya aq tau dya baek2 ajah di sana… Katanya tiap pagi dya dapet hukuman, hihihihi ^o^                                                                   Dya cerita soal kegiatannya seminggu itu, t’nyata ndak beda jauh ma waktu di jogja, bangun tidur -> mandi-> senam pagi, dll

Sebenernya masih pengen telpon lama2, maklum dah hampir seminggu ndak denger suaranya, tapi dya bilang itu hp seniornya, jadi ndak enak  ngabisin pulsanya T_T

Mas, laen kali kamu misscall ajah, aq yang telpon kamu, ok2???

Met pendidikan yah di sana, nanti bulan Oktober  minta ditempatin di JOgja ajah, jangan jauh-jauh

kyahahahaha =P

GBU Mas, jangan lupa doa yah…

Lagu Favorit dadakan

Sebenernya  aq udah lama tau 2 lagu ini, trus juga udah lama suka ma lagu ini. Tapi ndak tau kenapa “feeling”nya baru kerasa akhir2 ini, hohohoho. Beberapa bulan lalu si Poepoet ngasih aq mp3 Ten2five yang judulnya “Love is You” awalnya komen aq cuman “wah lagunya bagus, enak didengerin” tapiii…. karena ada suatu kejadian, lagu itu mendadak jadi “the soundtrack of my life” selama beberapa mingu ini ^_^ ini nie lyricsnya:

Love is You

This is how I feel
Whenever I’m with you
Everything is all about you
Too good to be true

Somehow I just can’t believe
You can lay your eyes on me
If this is a fairytale
I wish it will end happily

Even though we are apart I can feel you here next to me
Here and now I will vow, stay with me

Let me love you
With all my heart
You are the one for me
You are the light in my soul
Let me hold you
With my arms
I wanna feel love again [2x]
and I know
Love is you

Selama seminggu itu aq dapet banyak pengalaman baru plus “happiness” dari seseorang yang baru aq temuin, tapi rasanya kaya’ udah kenal lama..hihihi kok bisa yah? Yang pasti, aq pengen bilang “Makasih ya Mas, udah nemenin aq selama seminggu, bikin aq ketawa kalo lagi cemberut, nganterin aq jalan2 kemana ajah, beliin aq obat waktu aq sakit” duh banyak banget deh pokoknya, ndak bisa disebutin semua. Sekarang kamu dah pergi ke kota laen, baek2 yah di sana ^_^ sukses at pendidikannya \\(^o^)// I know you can do it…

Waktu lagi asik jalan2 sambil nungguin traffick light berubah jadi warna ijo, dya muterin mp3 favorit dya. Ternyata itu lagu yang aq suka banget tapi aq ndak tau judulnya apa, hohoho selera musik kamu bagus juga mas =P Setelah googling, baru tau kalo judul lagu itu “Dear God”-nya Avenged Sevenfold…

Dear God

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love
Hope is hard to find
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
And where I’d love to be, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you
Is to hold her when I’m not around
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again, oh no
Once again

There’s nothing here for me on this barren road
There’s no one here while the city sleeps
And all the shops are closed
Can’t help but think of the times I’ve had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah

Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I’m not around,
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
When hope begins to fade…

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love
Hope is hard to find

Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I’m not around,
When I’m much too far away
We all need the person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again

Lagu ini pas banget ma kamu Mas, semoga Tuhan jagain kamu di sana ^_^ waktu aq ndak bisa jagain kamu, hehehehe menunggu itu emang ndak enak , banyak banget hal2 yang bikin khawatir, all stupid things-lah. Mulai dari curiga knapa dya ndak telpon2 (padahal udah dibilang kalo dya bakal sibuk banget jadi ndak sempet telpon) sampe khawatir dya bakal kecantol ma cewek di sana..hihihihi, maklum terputusnya komunikasi bisa bikin qta jadi parno =P Jadiii… kuncinya adalah “Trust”, apakah kamu memutuskan wat percaya ma dya ato ndak… yang jadi masalah, gimana kalo dya ndak bisa dipercaya????kyahahahhaaha (Peace Mas ^o^)

Curhat dunk…

Hyaa, tanpa terasa sekarang udah semester 6, udah waktunya KKN trus nyusun skripsi… Temen2 juga udah mulai mikirin ntar maw nulis apa wat skrisi. Target aq, lulus taon 2011 (Amiinnn) paling lambat bulan November-lah, hehehhehe trus maw lanjut S2 dulu (tapi blum tau maw lanjut kemana e) Yah, moga2 semua target bisa tercapai ^_^ Sekarang aq lagi asik  ngetik wat blog (lama ndak keurus nie) ditemani secangkir (lebih tepat seteko) teh, hyahahhaha Barusan baca blog seseorang yang baru ajah aq kenal, blum pernah ketemu langsung malah. tapi blog dya tuh penuh ma inspirasi ma pengalaman hidup. Duh pengen banget ketemu ma si Mbak trus curhat soal dilema yg lagi aq hadapi sekarang (apalagi kalo bukan masalah cinta) huhuhuhuhu Mbak Ghita, diapprove yah Fb-nya hehehehhe ^_^

Pris…is back in the Zone…!!!!

Hola mis amigos…. Como esta???? Hahahaha, lama buangeett yah aq ndak nulis di blog ini, ndak terasa sekarang dah memasuki semester 5, dah masuk angkatan tua nie, dah punya adek tingkat trus taon depan dan maw KKN (amiinnnn…) Banyaak banget hal yang terjadi selama hampir 3 taon kuliah di jogja, baik di kampus ato di luar kampus. Yang pasti aq, Poepoet, Thatha, Nila, dan temen2 laen udah mengalami banyak perubahan, dan banyak kejadian yang ngebuat kami tambah dewasa dalam menyikapi masalah (hueee bahasanya berat euy..) Kalo pengen tau cerita lengkapnya… ikutin ajah postingan selanjutnya di blog ini, huehehehhe ^_^

Minggu ini mungkin minggu terdodol yang pernah aq alami. Dimulai dari masalah laptop sampe masalah hpq yang ilang (lagi)!!! Aduuh… aq ndak tau knapa bisa jadi orang yang ceroboh banget. Critanya, abis kelas EPI aq janjian ma Nessa wat mbahas presentasi minoritas wat besok paginya. Tapi sebelum itu aq minta ditemeni ma Way wat  ambil duit di ATM mandiri sebelah kampus. Keasikan ngobrol masalah Capacity Building jadinya lupa kalo naroh hp di mesin ATM itu….Abis dari ATM aq mencar m Way, dya balik aq-nya pergi ke laboratorium globalisasi. Ktemu ma Nessa langsung bahas presentasi mimin. Pas ngobrol2 baru keingetan kalo materi punya Thatha ada yang kurang, jadinya maw telpon dya wat nanyain bahan itu. Nah, pas aq maw telpon Thatha baru nyadar kalo hpq ndak ada!!! Langsung paniklah aq, lari2 ke atas. Aq kira ktinggalan di lab globalisasi tapi t’nyata ndak ada. Berpikir…berpikir…. baru inget kalo aq ambil duit di ATM. Aq langsung ke ATM wat liat, tapi langsung lemes coz dah ndak ada =( Untungnya Pak Satpam yang jagain gerbang tuh baik, aq ditanyain ada apa. Trus dipanggilin satpam Mandiri. Ternyata bener HPq ada di sana, Fiuh…. tapi urusan birokrasinya rada ribet. Untunglah HPq bisa balik… hehehehe

Perbedaan Suka, Cinta, & Sayang

Sudah ada banyak orang yang berbicara soal rasa suka, cinta, dan sayang yang mereka rasakan terhadap sang kekasih hati. Aq dapet artikel ini dari Puput, moga2 bisa memberi pencerahan wat orang2 yang masih binggung soal perbedaan ketiganya  ^_^ here we go…

Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.

Saat kau MENCINTAI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.

Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,
”Bolehkah aku menciummu?”
Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya
“Bolehkah aku memelukmu?”
Saat kau MENYAYANGI seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya…

SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata “Sudahlah, jgn menangis.”
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata,
“Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama. “

SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Ia sangat cantik/tampan dan menawan.”
CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,”Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku..”

Pada saat orang yang kau SUKA menyakitimu,maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.

Pada saat orang yang kau CINTAI menyakitimu,engkau akan menangis untuknya.

Pada saat orang yang kau SAYANG menyakitimu,kau akan berkata,”Tak

apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan.”

Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.

Pada saat kau CINTA padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.

Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan

setia dan tulus…

SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.

CINTA adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.

SAYANG adalah kau akan menemaninya tak perduli bagaimana pun

keadaanmu.

SUKA adalah hal yang menuntut.

CINTA adalah hal memberi dan menerima.

SAYANG adalah hal yang memberi dengan rela

Sebenarnya  sampai sekarang aq juga masih bingung sama definisi suka, cinta, & sayang… Beberapa waktu yang lalu sempet menemukan seseorang yang aku kira bisa menjadi “tambatan hati” hehehehehe ^_^ Namun kenyataan memang pahit, belakangan aq baru tahu kalo “seseorang” itu sudah memiliki hati yang lain yang harus dya jaga. Sedih, marah, ngerasa dibohongin, jengkel, semuanya bercampur jadi satu tapi aq dah memutuskan wat merelakan dya. Suatu saat nanti pasti Tuhan bakal mempertemukan aq dengan  sang pujaan hati, karena rencana Tuhan itu indah pada waktunya, hohohoho… Amiinnn  \\(^3^)//

Setiap orang pasti memiliki kriteria masing2 mengenai pasangan yang “ideal” dan sudah menjadi naluri qta wat cari pasangan yang memenuhi sebagian besar kriteria tersebut, ehm, bahasa lainnya sih “almost perfect” karena qta tau tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini ^_^. Tapi jangan lupa kalo qta juga harus berusaha wat jadi “the right one” wat pasangan qta. Boleh-boleh saja memiliki standar yang tinggi, tapi qta juga harus berkaca pada realita yang ada, itu yang disebut dengan “kompromi” hehehhehe =)

Weekendq yang surem

     Minggu ini harusnya jadi minggu yang menyenangkan wat aq. Tugas2 dah lumayan selesai trus presentasi juga dah banyak yang selesai. Bahkan aq dah ngrencanain maw ke AmPlaz ma Nila hari Minggu nanti. Hari Jumat seperti biasa abis kelas mimin aq ma Puput langsung pergi ke kantin wat makan (maklum kelasnya jam 7.30 di lantai 3 pula, jadi qta ndak sempet sarapan). Ritual selanjutnya, kami pergi ke worldbank wat ngirim NL mingguan, Tapi Puput ada tutorial EPI alhasil aq pergi sendiri ke worldbank, soalnya Flower ma Kiki maw sholat dulu. Tapi worldbank penuh so, aq ngenet ajah di depan worldbank. Abis itu ada rapat DPSDM wat bahas capacity building, nunggu lama soalnya Dea maw Jumatan dulu. Setelah rapat selesai, aq ma Puput bingung maw ngapain, jadinya qta pergi ke worldbank. Maw ngadem dulu sambil nonton film Napola. Sesampainya di WB qta langsung duduk di sofa (kok ya ndengareni WB sepi waktu itu). TIba2 si Nessa telpon, kedengarannya panik gitu. T’nyata jaketnya ketinggalan tapi dya lupa dimana tempatnya dan parahnya si Nessa dah balik ke asramanya. Aq bantuin cari ke MM sama kelas isu-isu global di R6 tapi ruangnya lagi dipake.

          Lagi di depan kantin tiba-tiba HPq bergetar, aq kira si Nessa yang telpon ternyata orang lain. Dengan suara kedengaran panik dya Tanya apa bisa pinjem laptoq sebentar (katanya). Aq rada keberatan wat minjemin soalnya ma papi dah dipesenin jangan pinjemin barang sembarangan, apalagi laptop di luar pengawasanq. Akhirnya aq bilang ndak bisa ke dya. Kembali ke WB aq crita ma Puput trus Flower soal telpon temenq itu. Trus aq Tanya pendapat mreka gimana, Flo bilang pinjemin aja, kasian tuh. Ya udah, aq sms temenq itu “kalo masih butuh laptopnya ambil ajah di WB”. Tapi dya ndak ada bales sms aq, ya udah aq lanjutin nonton Napola ma Puput. Ndak berapa lama temenq dateng wat ambil tuh laptop. Janjinya jam 4 laptopnya dah balik, tapi aq tunggu dya 1 jam, 2 jam, ndak balik2. Sampe akhirnya tuh perpus tutup jam 8 malem. Mulai dongkollah aq, selama nunggu juga aq dah sms dya terus sampe telpon segala. Abis itu aq makan ma Way di nasi bakar (enak banget deh,…) setelah itu way anter pris balik ke kost-an. Ndak berapa lama tmenq itu dateng sambil bilang “Nih laptopmu, aq balik dulu yah. Oya, sori ngrepotin kamu. Makasih”

Dong…dong…dong…

Aq tambah dongkol dunk, masa dya ndak nyadar kalo dya tuh salah?

          Biar ndak tambah bete, aq nglanjutin nonton Napola yang siangnya aq blom sempet nonton. Napola selesai aq pengen nonton Charm School. Refleks tanganq mencet tombol DVD Room wat masukin VCDnya. Betapa shocknya aq waktu sadar laptop Pris bolong!!! DVD Roomnya ilang, ndak berbekas. Aq langsung panik, coba telpon temenq itu ndak bisa terus. Aq telpon temenq yang lain, sangking paniknya sambil nangis di telpon gitu deh =(. Aq yakin banget pas aq minjemin laptop itu smuanya masih lengkap. Akhirnya diputusin kalo masalah itu bakal diselesein di kampus besok pagi.  Paginya aq minta ditemenin Thatha ke kampus soalnya si Puput lagi ada kumpul kelompok juga di kampus. Takutnya kalo aq ndak ditemeni ntar bakal pecah perang, hehehe

          Sampe di kampus aq langsung nunggu temenq itu, begitu dya dateng, aq ajak dya ngobrol trus langsung ajak dya pergi. Setelah suasananya tepat aq langsung  Tanya ke dya soal laptopq. Dya bilang ndak tau, trus pas aq Tanya ada  masalah ndak dya bilang ndak. Ndak berapa lama dya buka tasnya dan ngeluarin DVD Room itu, trus langsung dipasang lagi deh. Fiuh… untung DVD Room Pris balik soalnya aq dah takut aja kalo ndak balik. Laptopq kan soulmateq, hahaha. Setelah itu aq langsung bilang ke dya soal kejadian itu biar ndak keulang lagi. Kan ndak enak juga kalo kejadian kaya gitu keulang lagi. Akhirnya case closed deh, pelajaran yang bisa aq ambil adalah:

1.       Turutin nasehat ortu, soalnya yang dipesenin ma ortu seringkali ada benernya juga

2.       Jangan minjemin barang sembarangan, apalagi kalo di luar pengawasan kita

3.       Be calm, jangan panikan, minta saran temen yang laen

Itu ajah sih pelajaran yang  dapat aq tarik dari kejadian ini, any comment?

Cheese Fondue

Prep Time: 10 minutes

Cook Time: 15 minutes

Ingredients:

  • 3 Tablespoons butter or margarine
  • 4 ounces feta cheese, cut into 1/2-inch cubes
  • 1/8 teaspoon black pepper
  • 1 lemon, juice only
  • 1 Tablespoon parsley, minced (optional)
  • 1 cup ricotta cheese

Preparation:

Melt the butter in a heavy 8-inch skillet or a 1 quart saucepan over low-heat. Add the feta and ricotta cheese, and pepper. Cook, stirring constantly, and mashing the cheeses slightly, until they soften and begin to bubble – about 5 minutes.

Stir in lemon juice, and garnish with the parsley if desired. Serve at once; as the fondue cools, it loses flavor.

Variations: Substitute fontina cheese for the feta cheese or you can substitute cottage cheese for the ricotta. You can make both of these substitutions.

Yield: 4 servings

Hola mi amigos

Teman2 akhirnya prischa punya blog sendiri… =) terinspirasi sama Poepoet yang dah punya blog duluan. Kan udah banyak temen2 yang punya blog, jadi, biar ndak ngiri lagi aq buat blog sendiri. ho3 Sekarang aq lagi posting tulisan pertama ditemani anak-anak kelompok PLNDRI Nila, Ridho, Poepoet, dkk

qta smua terjebat di kampus (tepatnya di plaza bawah) gara2 ujan yang tak kunjung henti =(

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.